Askep Hepatitis

Bookmark and Share
Askep Hepatitis. Penyakit Hepatitis adalah adalah penyakit yang menyerang salah satu organ penting dalam tubuh kita yaitu organ hati. Penyakit Hepatitis atau penyakit kuning adalah segala hal bentuk peradangan yang menyerang organ tubuh yang disebut dengan hati ataupun liver. Demikian kurang lebih dari pengertian hepatitis.

Tadi di atas adalah pengertian penyakit hepatitis menurut tinjauan medisnya.Nah kali ini Blog Keperawatan akan sedikit berbagi mengenai askep hepatitis yang tentunya akan dibahas menurut tinjauan dari keperawatan dan semoga hal mengenai askep hepatitis ini bisa berguna serta dapat bermanfaat. Dan bagi sahabat yang ingin mengetahui akan artikel mengenai hepatitis anak dan cara mencegahnya sahabat bisa membacanya di hepatitis pada anak

Langsung saja sahabat menginjak kedalam asuhan keperawatan hepatitis ini. Seperti biasanya dalam melakukan asuhan keperawatan yang dilakukan pertama kali adalah dengan melakukan pengkajian.

askep hepatitis

Pengkajian Asuhan Keperawatan Hepatitis.
Data yang diambil dalam melakukan pengkajian ini tergantung dari penyebab dan berat ringannya kerusakan / gangguan hati yang diderita.
  1. Aktifitas. Yang dikaji dalam hal ini diantaranya yaitu : kelemahan, kelelahan, malaise.
  2. Sirkulasi. Yang dikaji dalam hal ini diantaranya yaitu : bradikardi ( hiperbilirubin berat ), ikterik pada sklera kulit, membran mukosa.
  3. Eliminasi. data yang didapatkan pada pengkajian ini yaitu : urine gelap, diare feses warna tanah liat.
  4. Makanan dan Cairan. Data yang dikaji diantaranya yaitu : anoreksia, berat badan menurun, mual dan muntah, peningkatan oedema, asites (acites).
  5. Neurosensori. Data yang dikaji diantaranya yaitu : peka terhadap rangsang, cenderung tidur, letargi, asteriksis.
  6. Nyeri / Kenyamanan. Data yang dikaji pada pengkajian ini diantaranya yaitu : adanya kram abdomen, nyeri tekan pada kuadran kanan, mialgia, atralgia, sakit kepala, rasa gatal ( pruritus ).
  7. Keamanan. data yang dikaji pada pengkajian ini berupa : demam, urtikaria, lesi makulopopuler, eritema, splenomegali, pembesaran nodus servikal posterior
  8. Seksualitas. Data yang dikaji diantaranya yaitu : Pola hidup / perilaku meningkat resiko terpajan.
Selanjutnya kita melangkah kepada diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan pada pasien dengan hepatitis adalah sebagai berikut :
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan, perasaan tidak nyaman di kuadran kanan atas, gangguan absorbsi dan metabolisme pencernaan makanan, kegagalan masukan untuk memenuhi kebutuhan metabolik karena anoreksia, mual dan muntah.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium normal dan bebas dari tanda-tanda mal nutrisi.
Intervensi Keperawatan :
  1. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.
  2. Awasi pemasukan diet/jumlah kalori, tawarkan makan sedikit tapi sering dan tawarkan pagi paling sering.
  3. Pertahankan hygiene mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan.
  4. Anjurkan makan pada posisi duduk tegak.
  5. Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
2. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.
Hasil yang diharapkan : Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri (tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
Intervensi Keperawatan :
  1. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat digunakan untuk intensitas nyeri.
  2. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap nyeri : Akui adanya nyeri, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan klien tentang nyerinya.
  3. Berikan informasi akurat dan jelaskan penyebab nyeri, tunjukkan berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui.
  4. Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung efek hepatotoksi.
3. Hypertermi berhubungan dengan invasi agent dalam sirkulasi darah sekunder terhadap inflamasi hepar.
Hasil yang diharapkan : Tidak terjadi peningkatan suhu.
Intervensi Keperawatan :
  1. Monitor tanda vital : terutama dalam hal ini adalah suhu badan.
  2. Ajarkan klien pentingnya mempertahankan cairan yang adekuat (sedikitnya 2000 l/hari) untuk mencegah dehidrasi, misalnya sari buah 2,5-3 liter/hari.
  3. Berikan kompres hangat pada lipatan ketiak dan femur.
  4. Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat.
4. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit dan jaringan berhubungan dengan pruritus sekunder terhadap akumulasi pigmen bilirubin dalam garam empedu.
Hasil yang diharapkan : Jaringan kulit utuh, penurunan pruritus.
Intervensi Keperawatan :
  1. Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering.
  2. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan pertahankan suhu ruangan dingin dan kelembaban rendah, hindari pakaian terlalu tebal.
  3. Anjurkan tidak menggaruk, instruksikan klien untuk memberikan tekanan kuat pada area pruritus untuk tujuan menggaruk.
  4. Pertahankan kelembaban ruangan pada 30%-40% dan dingin
5. Resiko tinggi terhadap transmisi infeksi berhubungan dengan sifat menular dari agent virus.
Hasil yang diharapkan : Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Intervensi Keperawatan :
  1. Gunakan kewaspadaan umum terhadap substansi tubuh yang tepat untuk menangani semua cairan tubuh. Dengan cara cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan semua klien atau spesimen. Gunakan sarung tangan untuk kontak dengan darah dan cairan tubuh. Tempatkan spuit yang telah digunakan dengan segera pada wadah yang tepat, jangan menutup kembali atau memanipulasi jarum dengan cara apapun
  2. Gunakan teknik pembuangan sampah infeksius, linen dan cairan tubuh dengan tepat untuk membersihkan peralatan-peralatan dan permukaan yang terkontaminasi.
  3. Jelaskan pentingnya mencuci tangan dengan sering pada klien, keluarga dan pengunjung lain dan petugas pelayanan kesehatan.
  4. Rujuk ke petugas pengontrol infeksi untuk evaluasi departemen kesehatan yang tepat.

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment