HADITS-HADITS PALSU DAN BATIL TENTANG KEUTAMAAN WANITA HAIDH

Bookmark and Share



Oleh: Ust. Muhammad wasitho Abu Fawaz, Lc

Bismillah,
Akhir-akhir ini telah beredar di internet, atau melalui sms, email dan BM riwayat-riwayat yang cukup banyak yang menjelaskan tentang keutamaan-keutamaan besar bagi wanita muslimah yang mengalami haidh dan amalan-amalan yang dilakukannya pada saat itu. Di antara keutamaan-keutamaannya yang disebutkan adalah sebagai berikut:

1. Allah mengampuni semua dosa besar dan kecil yang pernah dilakukan oleh wanita yang haidh.
2. Allah tidak akan mencatat kesalahan-kesalahan wanita yang sedang haidh hingga tiba masa haidh berikutnya.
3. Allah memberikan kepada wanita yang sedang haidh pahala 60 (enam puluh) orang yang ma ti syahid.
4. Allah akan membangunkan sebuah kota di dalam Surga bagi wanita yang haidh.
5. Allah akan memberikan cahaya kepada wanita yang haidh sebanyak rambut yang ada di kepala dan badannya.
6. Jika wanita yang sedang haidh itu mati, maka ia mati dalam keadaan syahid.
7. Allah akan mencatat baginya pembebasan dari api neraka.
8. Allah akan memberikan kepadanya jaminan keamaan dari azab (siksaan-Nya).
9. Dan lain sebagainya.

Namun sayangnya riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan yang agung tersebut tidak ada yang benar datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Bahkan itu semua dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta dan batil oleh sebagian orang.

Berikut ini akan saya sebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan hal ini beserta terjemahannya.

HADITS PERTAMA :

عن النبي صلى الله عليه وسلم “إذا إغتسلت المراه من حيضها، وصلت ركعتين تقرا فاتحة الكتاب وسورة الاخلاص 3 مرات في كل ركعه غفر الله لها كل ذنب عملته من صغيره وكبيره. ولم تكتب عليها خطيئه إلى الحيضه الاخرى. وأعطاها اجر 60 شهيد, وبنى لهامدينه في الجنه. واعطاها بكل شعره على رأسها نورا . وان ماتت إلى الحيضه ماتت شهيده .

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Apabila seorang wanita mandi setelah berakhir masa haidnya, lalu ia melaksanakan sholat dua roka’at dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali pada setiap roka’atnya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa besar maupun kecil yang pernah diperbuatnya, dan kesalahan-kesalahannya tidak akan dicatat (oleh Allah) hingga datang masa haidh berikutnya, dan Allah akan memberinya pahala 60 (enam puluh) orang yang mati syahid, dan akan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam Surga, serta Allah akan memberinya cahaya sejumlah rambut yang ada di kepalanya. Dan jika ia mati karena haidnya, maka ia mati dalam keadaan syahid.”

HADITS KEDUA :

وقالت عائشة رضي الله عنها:”ما من امراه تحيض إلا كان حيضها كفاره لما معى من ذنوبها ، وإن قالت عند حيضهاالحمد الله على كل حال واستغفرك من كل ذنب ” كتب لها براءة من النار. وأمان من العذاب.وأيضا تقدم ان الحائض إذا استغفرت عند كل صلاه 70مره :كتب لها ألف ركعه .. ومحى عنها 70 ذنبا. وبنى لها في كل شعره في جسدها مدينه في الجنة.

Aisyah radhiyallahu anha berkata: “Tidaklah seorang wanita mengalami haidh melainkan haidnya itu akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya. Dan jika ia mengucapkan ketika mengalami haidh, “Alhamdulillah ‘Ala Kulli Haalin wa Astaghfiruka min Kulli Dzanbin” (segala puji bagi Allah dalam keadaan apapun, dan aku memohon ampunan kepada-Mu dari segala dosa), maka dicatat (oleh Allah) baginya pembebasan dari api neraka, dan jaminan keamanan dari siksaan. Demikian sebagaimana yang telah lalu disebutkan bahwa wanita yang haidh apabila ia beristighfar sebanyak 70 (tujuh puluh) kali pada setiap sholat, maka dicatat baginya (pahala) seribu roka’at, dan dihapuskan darinya 70 (tujuh puluh) dosa, dan dibangunkan untuknya sebuah kota di dalam surga sebanyak rambut yang ada pada badannya.”

DERAJAT HADITS :
Hadits-hadits tersebut di atas derajatnya PALSU dan BATIL. Karena semuanya itu dibuat dan disebarluaskan oleh para tukang cerita lalu dinisbatkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam secara dusta.

Di antara bukti-bukti yang menunjukkan kepalsuan dan kebatilannya adalah hal-hal berikut ini :

1. Riwayat-riwayat tersebut tidak ditemukan sama sekali di dalam kitab-kitab hadits apa pun, baik itu  dalam kitab hadits yang enam (Shohih, Bukhori, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah), atau dalam kitab-kitab Al-Musnad seperti Musnad imam Ahmad, Musnad imam Asy-Syafi’i, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al-Bazzar, Musnad ‘Abd bin Humaid, atau dalam kitab-kitab Al-Mu’jam seperti Al-Mu’jam Al-Kabir, Al-Mu’jam Al-Ausath, Al-Mu’jam Ash-Shoghir karya imam Ath-Thobroni, atau dalam kitab-kitab Al-Mushonnaf seperti Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf Abdurrrozzaq, atau dalam kitab-kitab hadits lainnya seperti As-Sunan Al-Kubro karya Al-Baihaqi, Al-Mustadrok karya Al-Hakim, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Darimi dan selainnya.

2. Riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki sanad hadits (rangkaian para perowi yang meriwayatkannya) yang jelas.

3. Di dalam matan hadits tersebut terdapat kemungkaran (atau keganjilan) yang nampak jelas dilihat dari susunan kalimatnya, dan pahala-pahala besar yang tidak pernah ada di dalam kebanyakan hadits-hadits shohih yang menjelaskan Fadhilah amal (amalan-amalan yang memiliki keutamaan) meskipun hanya sepersepuluhnya saja.

4. Riwayat-riwayat tersebut disebutkan di dalam kitab Nuzhatu Al-Majalis Wa Muntakhobu An-Nafa-is karya Abdurrahman bin Abdussalam Ash-Shofuri Asy-Syafi’i (wafat pada tahun 884 H). Dan beliau telah menyebutkan dua riwayat di atas di dalam kitabnya tersebut dalam konteks cerita, namun tanpa sanad. Dan kitabnya ini termasuk di antara kitab-kitab Ar-Roqo-iq yang populer. (kitab Roqo-iq kandungan isinya tentang hal-hal yang dapat melunakkan hati dan kezuhudan, pent). Di dalam kitabnya ini juga, dia acap kali menyebutkan kisah-kisah dan berita-berita tentang kehidupan orang-orang sholih sebagai kesimpulan dari pembahasan kitabnya itu. Bahkan dia telah memenuhi kitabnya itu dengan hadits-hadits palsu yang didustakan atas nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dan juga riwayat-riwayat dari Bani Israil yang tidak shohih.

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Kitab-kitab yang membahas tentang kezuhudan ini dan selainnya tidak pernah luput dari hadits-hadits dan cerita-cerita yang DHO’IF (lemah) dan BATIL. Dan dalam kitab Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim sudah dapat dipastikan adanya hal-hal itu. Akan tetapi riwayat-riwayat dho’if dan batil yang ada dalam kitab-kitab selain itu jauh lebih banyak lagi.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah XVIII/72).

Berdasarkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ini, maka kita pun menjadi sadar dan tidak heran lagi kalau akhir-akhir ini sering sekali menjumpai atau membaca dan mendengar hadits-hadits atau riwayat-riwayat tentang berbagai keutamaan besar untuk amalan-amalan tertentu, orang-orang tertentu, atau berita-berita di waktu mendatang yang sampai kepada kita namun tanpa sanad dan sumber yang jelas. Bahkan saking batil dan palsunya karena memang buatan orang-orang di zaman sekarang, kita pun sangat kesulitan untuk mencari tahu sumber aslinya di kitab apa meskipun tanpa sanad. Ini terjadi tiada lain sebabnya karena kebodohan akan bahaya berdusta atas nama Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sehingga siapapun bisa membuat hadits palsu sesuka hatinya, kemudian disandarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan ini semua.

Setelah mengetahui kepalsuan dan kebatilan riwayat-riwayat di atas dan yang semisalnya, maka sudah seharus bagi kita semua khususnya para wanita muslimah untuk tidak meyakininya sebagai hadits Nabi, apalgi melakukan amalan-amalan yang disebutkan di dalamnya dalam rangka mencari pahala dan keutamaan.

Meskipun riwayat-riwayat tentang keutamaan wanita haidh di atas terbukti palsu dan batil, akan tetapi para wanita muslimah janganlah berkecil hati atau merasa sedih ketika mengalami haidh, karena hal ini merupakan ketetapan Allah pada para wanita semuanya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada istrinya, Aisyah radhiyallahu anha yang bersedih dan menangis ketika mengalami haidh dalam perjalanan safar Haji bersama Nabi. Nabi bertanya kepada Aisyah demi menghibur dan meringankan kesedihannya, “Apakah engkau sedang mengalami haidh?” dia jawab: “iya”. Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya haidh ini merupakan perkara yang telah Allah tetapkan (untuk terjadi) pada para wanita.” (HR. Bukhori I/113 no.290, dan Muslim II/870 no.1211).

Oleh karena itu, hendaknya para wanita muslimah bersabar atas ketetapan Allah yang penuh hikmah ini, dan mengharapkan pahala dari-Nya atas segala kesulitan dan kegelisahan yang ia rasakan selama mengalami haidh, karena yang demikian ini termasuk dari jenis sakit yang disebutkan dalam keumuman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam di dalam hadits shohih berikut ini :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »

Dari Abu sa’id Al-Khudri dan dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhuma-, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa keletihan, sakit, kebingungan, kesedihan dan kerumitan hidup, atau bahkan tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari V/2137 no.5318, dan Muslim IV/1990 no.2573).

Demikian penjelasan tentang derajat hadits-hadits tersebut  di atas yang dapat saya sampaikan. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.



Sumber : http://abufawaz.wordpress.com/2012/01/13/hadits-hadits-palsu-dan-batil-tentang-keutamaan-wanita-haidh/

{ 0 comments... Views All / Send Comment! }

Post a Comment